TKN: Karakter Prabowo Perlahan Keluar

M Sholahadhin Azhar    •    Kamis, 06 Dec 2018 16:00 WIB
pilpres 2019
TKN: Karakter Prabowo Perlahan Keluar
Wakil Direktur Saksi Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (TKN-KIK) Lukman Edy. Foto: M Sholahadhin Azhar/Medcom.id

Jakarta: Karakter calon presiden Prabowo Subianto dinilai mulai terlihat dari kemarahannya kepada media massa soal pemberitaan reuni 212. Prabowo seakan ingin menyetir media massa agar membuat pemberitaan sesuai dengan keinginannya.

"Pelan-pelan akhirnya karakter Pak Prabowo itu muncul. Karakter ingin mendikte media, mem-framing media," kata Wakil Direktur Saksi Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (TKN-KIK) Lukman Edy di Posko Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis, 6 Desember 2018.

Menurut dia, keinginan Prabowo tak bisa dilakukan pada era saat ini. Media punya independensi dan tak bisa disetir siapapun. 

Hal itu, terang dia, berbeda dengan zaman orde baru. Kala itu, Presiden ke-2 RI Soeharto represi terhadap media massa. Salah satunya dengan memberedel Majalah Tempo. Namun di era keterbukaan saat ini, hal itu sulit terulang.

"Yang seperti ini kan 20 tahun lalu, sekarang sudah enggak bisa. Dia (media) ini kan pilar demokrasi," beber Lukman.

Baca: Prabowo Sebut Jurnalis Antek Penghancur NKRI

Tim kampanye Joko Widodo-Ma'ruf Amin pun tak menyalahkan objektivitas media dalam menyebarkan pemberitaan, khususnya soal Reuni 212. 

Media massa dinilai punya tanggung jawab menyampaikan fakta. Mereka juga bukan pihak yang tutup mata dan telinga dalam memberikan informasi ke publik.

Dia menilai pemberitaan soal reuni 212 sudah cukup banyak. Mulai dari rencana, persiapan, hingga acara reuni itu berlangsung. Prabowo pun diminta mencari lebih jauh pemberitaan terkait reuni 212 tersebut.

"Pada posisi ini, saya melihat Pak Prabowo tidak clear dalam melihat media sebagai pilar demokrasi," ujar dia.

Baca: Hardik Prabowo pada Media Bukti 212 Politis

Lukman beranggapan protes dilancarkan Prabowo karena framing pemberitan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Dia kembali mengingatkan Prabowo tak bisa mendikte media massa dalam mengabarkan fakta.

"Mungkin dia beranggapan bahwa ini (media) enggak sesuai dengan framing yang dilakukannya," pungkas dia.

Prabowo menuding pemberitaan di media sebagian besar memublikasikan berita bohong. Prabowo pun mengajak publik tak usah lagi menghormati jurnalis yang bekerja mewartakan berita.
 
"Pers ya terus terang saja banyak bohongnya dari benarnya. Setiap hari ada kira-kira lima sampai delapan koran yang datang ke tempat saya. Saya mau lihat bohong apalagi nih," kata Prabowo di Hotel Sahid, Jakarta Pusat, Rabu, 5 Desember 2018.
 
Mantan Komandan Jenderal Kopassus itu menuding jurnalis dan media bagian dari antek-antek yang ingin menghancurkan demokrasi di Indonesia. Prabowo menuding sikap media yang tidak memberitakan acara reuni 212 tak objektif.
 
"Boleh kau cetak ke sini dan ke sana, saya tidak mengakui Anda sebagai jurnalis. Enggak usah saya sarankan kalian hormat sama mereka lagi, mereka hanya anteknya orang yang ingin menghancurkan Republik Indonesia," kata Prabowo.


(AZF)