Kubu Penantang Menghadapi Situasi Terbalik

   •    Sabtu, 12 Jan 2019 14:11 WIB
pilpres 2019
Kubu Penantang Menghadapi Situasi Terbalik
Dewan Penasehat Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Romahurmuziy. (Foto: MI/Ramdani)

Jakarta: Dewan Penasehat Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Romahurmuziy menyebut kubu Prabowo Subianto mengalami situasi terbalik dalam menghadapi Pilpres 2019. Dibandingkan Pilpres 2014, kubu penantang seakan kewalahan menghadapi petahana.

"Ada keterbalikan situasi di pasangan calon presiden dan wakil presiden (nomor urut) 02, di samping terbatasnya sumber daya yang dimiliki dengan disparietas elektabilitas yang besar," ujarnya dalam Prime Talk Metro TV, Jumat, 11 Januari 2019.

Menilik masa lalu, kata Romi, kubu Prabowo pada Pilpres 2014 didukung oleh lima partai politik yang semuanya berafiliasi dengan pemerintah. Bahkan calon wakil presiden yang mendampingi saat itu tak lain merupakan besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono; Hatta Rajasa.

Keberadaan Hatta Rajasa saat itu dianggap sebagai salah satu kekuatan Prabowo. Ibaratnya, ungkap Romi, Prabowo 'menggandeng' petahana dengan kemungkinan menang cukup besar.

"Saat itu (Hatta Rajasa) besan presiden yang sedang berkuasa dan bisa dikatakan petahana sehingga sumber dayanya pasti lebih besar ketimbang hari ini. Tapi sekarang situasinya terbalik," kata dia.

Romi meyakini keterbatasan itulah yang membuat kubu penantang menggunakan strategi kampanye negatif bahkan hoaks untuk menarik simpati pemilih dengan harapan dapat meraup suara. Semakin pendeknya waktu menuju hari pemilihan membuat kubu penantang putus asa dan menghalalkan segala cara. 

"Yang pasti orang dalam situasi kepepet itu biasanya mengarah kepada tindakan yang kadang tidak rasional bahkan melanggar peraturan. Sehingga memang hoaks ini (salah satu) jalan pintas," ungkap dia.




(MEL)