Langkah Prabowo-Hatta Rangkul FPI Disayangkan

Laela Zahra - 31 Mei 2014 17:39 wib
Ketua Dewan Pembina Gerindra, Prabowo Subianto--Ant/Muhammad Adimaja
Ketua Dewan Pembina Gerindra, Prabowo Subianto--Ant/Muhammad Adimaja

Metrotvnews.com, Jakarta: Lembaga yang dibentuk tokoh Nahdlatul Ulama Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, The Wahid Institute, menyesalkan langkah kandidat presiden Prabowo Subianto dan wakilnya Hatta Rajasa yang merangkul organisasi Front Pembela Islam (FPI).

Peneliti The Wahid Institute Muhammad Subhi Azhari, di Jakarta, Sabtu (31/5/2014), mengatakan langkah politik Prabowo dan Hatta merangkul FPI secara moral sebagai pasangan capres tidan memberikan contoh baik kepada masyarakat.

"Kurang bijaksana. Masyarakat akan menilai bahwa calon ini menoleransi kekerasan. Seakan-akan menoleransi kekerasan," katanya.

Hatta menghadiri sebuah acara di Jakarta pada Selasa (27/5/2014) lalu, yang dihadiri anggota FPI dan pimpinannya Rizieq Syihab. Dalam acara yang juga dihadiri Ketua Majelis Pertimbangan PAN Amien Rais, Hatta meminta dukungan dan doa dari anggota FPI.

Sebelumnya, Prabowo secara terbuka mengusulkan perlunya semua pihak merangkul FPI. Menurut Prabowo, pemerintah di pusat dan daerah juga perlu untuk merangkul FPI.

Subhi menyesalkan langkah Prabowo-Hatta merangkul FPI lantaran FPI terkenal sebagai organisasi "menghalalkan" kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Selama ini, aksi FPI menyalahi tradisi kebangsaan yang beragam dan menghargai perbedaan.

"Namun, mereka (Prabowo dan Hatta, red) justru tidak memberikan contoh yang bijak kepada masyarakat Indonesia. Prabowo-Hatta seharusnya bijak dalam mencari dukungan dari kelompok masyarakat," ujarnya.

Berdasarkan laporan hasil riset kebebasan beragama atau berkeyakinan dan intoleransi yang dibuat The Wahid Institute tahun 2013, kata Subhi, FPI berada di urutan kedua yang sering melakukan tindakan intoleransi di seluruh Indonesia.

Subhi menjelaskan, bentuk tindakan intoleransi yang dilakukan FPI mulai dari lisan hingga fisik. Tindakan intoleransi yang dilakukan FPI sepanjang tahun 2013 terjadi di banyak daerah di Indonesia, namun hanya sedikit yang diproses secara hukum oleh kepolisian. (Antara)

(Lal)

MOST VIEWED
MORE
MOST COMMENTED
MORE

Highlight Mata Najwa: Nasib Setya Novanto

20 Juli 2017 13:01 wib

DPR lagi-lagi tersandera, kali ini karena status sang ketua. Jadi tersangka kasus korupsi yang mega, Setya Novanto menyatakan perlawanan dengan terbuka. Enggan mundur dengan legawa, keukeuh bertahan dengan dalih UU MD3. Proses pengadilan memang belum berjalan, praduga tak bersalah tetap perlu dikedepankan. Tapi bagaimana dengan kepatutan dan etika? pantaskah parlemen dipimpin seorang tersangka?